Aku Adalah Definisi Definisi Yang Aku Buat Sendiri Dalam Pikiranku

Semua dari kita saat ini sedang menerima buah ‘Karma’ atas pikiran, perkataan dan perbuatan kita di masa lalu dan sebaliknya kita memiliki kebebasan bereaksi atau membuat karma baru atas buah karma tersebut. Ketika kita tidak terima, meronta, marah, mengumpat atas apapun yang terjadi saat ini sebagai buah karma kita sendiri, kita sedang membuat karma tidak baik yang baru yang berkonsekuensi kita akan menerima lagi buah karma yang tidak baik di masa mendatang.

Ini juga sebabnya orang bijak selalu bisa menerima dengan sepenuhnya apa yang terjadi saat ini dengan kesabaran dan kesadaran  bahwa 100% hasil atau buah karma sendiri, orang lain atau apapun hanyalah media untuk menerima buah karma tersebut. Tetaplah terima dengan baik walau kamu saat ini sedang sakit, sedang ditipu, dikhianati , diperlakukan tidak baik oleh yang lain. Yakini bahwa yang lebih baik akan datang atau bahkan kamu bisa merubah definisi definisi itu menjadi kebahagiaan saat ini juga, maka kebahagiaan itu sudah terwujud saat ini juga tanpa harus menunggu terwujud di masa yang akan datang. 

Ketika si sakit bisa bilang, ‘aku sehat’ maka saat itu juga dia sehat. Ketika si miskin bisa bilang, ‘aku kaya’ maka sebaliknya saat itu juga dia sudah kaya, demikian sebaliknya dan seterusnya. Bukankah kita hanya definisi definisi dalam pikiran kita dan kita bebas menentukan definisi definisi itu. Buatlah definisi definisi yang baik akan dirimu dengan penuh perasaan dan keyakinan, maka tidak terasa mereka terwujud nyata dengan cepat.

Contoh hari ini: Ayahku menelantarkan aku, ibu dan adikku dari saat kami masih kecil. Dia memilih untuk memenuhi egonya dengan menikahi wanita lain. Sebagian besar orang meyakini aku akan marah atau dendam padanya. Namun aku memilih menerima dengan baik dan memaafkannya dengan sepenuh hati. Akulah yang memilih dia sebagai orang tuaku atas karma dikehidupanku sebelumnya. Aku tetap menghormatinya. Bagaimanapun atas dia juga aku ada dan dapat menikmati semua kebahagiaan hidup. Dia hanyalah media. Aku menjadikannya guru, guru yang tidak pantas ditiru karena atas karmanya kami mengalami kehidupan yang sangat keras pada saat aku masih kecil. Yang terpenting aku memotong karma buruk itu dengan memaafkannya, dengan selalu mejadi suami yang selalu setia pada istriku, aku tidak akan pernah membanding bandingkannya dengan wanita lain, aku menerima dengan penuh kebahagiaan atas segala kekurangannya apalagi kelebihannya yang merupakan anugerah luar biasa, aku menjadi Bapak yang baik dan jujur bagi anak anakku. Jujur dalam pikiran, perkataan dan perbuatanku. 


Semoga semua sehat jasmani rohani, bahagia lahir batin, panjang umur dan berlimpah sejahtera (Rahayu)

Share This Post: