Perselingkuhan Dan Polygamy Adalah Perbuatan Dusta- Eka Patmi Brata

Sebagai makhluk berbudi apapun yang kita lakukan seharusnya kita selalu meposisikan diri kita sebagai yang lain. Tulisan saya ini saya peruntukkan untuk diri saya sendiri namun apabila ada yang dengan sengaja atau tidak sengaja membaca lalu ada perbedaan pemahaman tentang hal ini, hendaknya kita tetap sama sama bahagia melihatnya sebagai perbedaan yang membuat hidup ini indah. Mari tidak mempertentangkan apapun itu toh pada akhirnya setiap karma kita, kita akan mempertanggungjawabkannya sendiri sendiri.

Setiap hal didunia ini berkembang atau berevolusi tidak lepas juga dengan diri kita. Salah satu tujuan hidup kita menurut pandangan saya adalah perlahan lahan menghilangkan sifat sifat kebinatangan yang melekat pada diri kita sehingga pelan tapi pasti sifat sifat kedewataan menggantikannya.

Saya sangat prihatin melihat pemandangan dimana begitu banyak anak anak yang terlantar dan sengsara hanya karena orang tua mereka begitu ego dengan kesenangan mereka masing masing. Jika bisa memilih setiap anak pasti sangat menginginkan keluarga yang utuh. Ada sosok Bapak laksana Bapak Langit yang selalu melindungi, ada sosok Ibu laksana Ibu Bumi/Pertiwi yang selalu menyayangi. Namun pada kenyataannya sangat banyak dari anak anak ini tumbuh dalam keluarga berantakan. Keberantakan ini sebagian besar adalah akibat orang tua mereka yang tidak memahami betapa sucinya sebuah pernikahan dimana seharusnya setelah berkeluarga mereka fokus, berkomitmen dengan keluarga dan mengesampingkan ego mereka masing masing. 

Anak anak terlahir sebagai buah karma kita. Mereka tidak layak menjadi sengsara dan menderita dalam kehidupan ini karena perilaku kita. Dengan alasan apapun demi kebahagiaan mereka rumah tangga harus dipertahankan utuh.

Komitmen dan kesetiaan kita adalah kunci utamanya. Kekuatan menahan godaan adalah jalan satu satunya. Sangat banyak mereka yang sudah berkeluarga berperilaku dusta dan menghianati kesucian keluarga mereka. Saya berpandangan bahwa pemahaman 'perselingkuhan itu biasa, polygamy itu boleh' adalah salah satu sifat kebinatangan yang semestinya kita hilangkan karena menjadi sumber kesengsaraan baik bagi pelaku pada akhirnya, pasangan dan anak anak. Sebagian besar dari manusia yang melakukan hal tersebut hanyalah mencari pembenaran pembenaran atas ketidak mampuan mereka untuk melakukan pengendalian pikiran yang berujung pada pengendalian perbuatan. Perilaku ini tidak lebih dari perilaku anjing dijalanan yang melakukan hubungan seksual sembarangan. Memulainya adalah dengan pengendalian pikiran setiap saat. Segala sesuatu bisa dibiasakan. Manusia yang membiasakan diri mengendalikan pikiran maka setiap saat akan dapat dengan mudah mengendalikan perkataan dan perbuatan mereka. Semua berawal dari pikiran. Sebagai contoh ketika anda melihat perempuan cantik didepan anda, jangan biarkan pikiran liar anda atau the wild monkey in your mind mengambil alih. Kendalikan dia dengan cara berbicara dalam hati dan pikiran ', wahai perempuan cantik, engkau tidak ada bedanya dengan diriku, engkau hanyalah bagian dari semesta yang selalu aku doakan keselamatan dan kebahagiaan. Semoga engkau selalu bisa menjaga kesucian dirimu'. Selanjutnya doakan semesta. Bila anda biasakan, hal ini akan sangat mudah. Anda Sang Dewata yang akan mengontrol si wild monkey bukan sebaliknya.  

Polygamy juga tergolong perbuatan keji menurut pandangan saya. Apapun alsannya, semua itu hanyalah pembenaran semata. Dalam satu kebenaran kita bisa membuat banyak pembenaran. Tindakan polygamy pastilah diawali dengan penghianatan. Budaya polygamy seharusnya mulai kita tinggalkan karena secara nyata sudah membuat banyak penderitaan bagi kaum wanita dan anak anak. Sakit hati para wanita, penderitaan anak anak, kekurangpercayaan diri mereka, konflik kepentingan dalam keluarga, tidak jelasnya garis keturunan, kemelaratan, ketidakpercayaan dalam keluarga dan banyak permasalahan fisik dan mental  lainnya yang ditimbulkan oleh perilaku ini. Alasan yang penting adil misalnya. Adil darimana? Kalau punya istri dua, jumlah hari ada 7, 3 hari dengan istri tua, 4 hari dengan istri muda. Atau yang lebih extrim lagi 6 hari dengan istri muda, sehari saja dengan istri tua. Untuk urusan uang misalnya, paling istri muda yang dikasi lebih banyak karena bak orang pacaran yang selalu berusaha memenuhi keinginan istri muda. Yang paling tidak bermoral lagi, coba bayangkan bagaimana perasaan istri tua saat sang suami bersama istri muda atau sebaliknya? Kalau masih punya rasa, seandainya kita (laki) yang jadi mereka bagaimana? Kalau anda yang sedang dikhianati bagaimana? Di jaman kegelapan ini manusia memang sebagian besar berperilaku laksana binatang. Mereka lebih senang mengumbar hawa nafsu, serakah, mabuk baik itu mabuk karena rupawan, mabuk karena kekayaan, mabuk karena kekuasaan dan semua sifat sifat itu yang akhirnya membuat manusia bingung sehingga semakin tergerus kembali menjadi binatang. Ada istilah manusia disebut sebagai 'Dwi Pasuh' binatang berkaki dua. Semoga kita semua cepat menyadari ini sehingga bisa kita awali dengan merubah pikiran dan selalu mengendalikannya, akhirnya perkataan berubah, perbuatan berubah, kebiasaan berubah, karakter berubah dan takdirpun berubah. Perlahan lahan keagungan sifat sifat kedewataan hidup dalam diri kita. Tidak pernah ada keterlambatan untuk berubah yang penting saat ini ada niat.

Waktu kecil saya pernah diceritakan cerita pewayangan bagaimana seorang manusia setengah dewa Sri Rama selama hidupnya melaksanakan brata pengendalian diri yang disebut sebagai 'Eka Patmi Brata'. Beliau memilih untuk setia kepada seorang istri. Hal ini beliau lakukan karena pengalaman buruk ayah beliau Sang Dasarata yang memiliki istri tiga orang. Keluarga penuh konflik dan akhirnya sang ayah meninggal stress diusia yang relatif muda. Berawal dari keinginannya untuk mengangkat Sang Rama menjadi raja, namun Ibu tirinya Dewi Kekayi menginginkan anaknya sendiri Sang Barata yang menggantikan Sang Dasarata. Bahkan cara cara kejampun dilakukan. Jangan lupa orang orang yang terdekat penuh keinginan tidak benarlah yang paling berbahaya dalam kehidupan kita.


Monogamy adalah jalan Kedewataan, jalan terbaik. Jangan pernah berniat selingkuh walau hanya dalam pikiran. Kita semua hanyalah pikiran kita. Banyak pasangan palsu yang hidup dijaman Kaliyuga ini. Mesra dengan pasangannya dirumah, diluar mesra dengan yang lain. Diri kita yang sesungguhnya adalah yang tidak terlihat yaitu niat kita, pikiran kita. Untuk menjadi sejati menuju hidup yang semakin mulia seperti Dewa satu satunya jalan adalah satunya pikiran, perkataan dan perbuatan. Setialah pada pasangan dan anak anak. Yang akan diambil oleh mereka adalah energi kita bukan perkataan atau perbuatan kita yang bisa kita buat buat. 

Share This Post: