I AND MY DEITY ANGELS - AKU DAN PARA DEWA MALAIKATKU

I have written this article for myself. Yet, if you read this and, the contents don't meet your creed, lets be tolerant because differences have been making this life beautiful. Only God knows the true truth. May in every thought, talk and deed we take will be under his guidance. With purity of our heart and following our conscience, we are living in true happiness.

Saya menulis artikel ini untuk diri saya sendiri. Namun, jika ada yang membaca ini dan isinya tidak sesuai dengan kredo anda, mari bersikap toleran karena perbedaanlah yang telah membuat hidup ini indah. Hanya Tuhan yang tahu kebenaran sejati. Semoga dalam setiap pikiran, perkataan dan perbuatan yang kita lakukan selalu dalam bimbingan-Nya. Dengan kesucian hati kita dan dengan selalau mendengarkan bisikan hati nurani kita, kita hidup dalam kebahagiaan sejati. 
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sebelum lebih lanjut saya bercerita, setiap orang memiliki sebutan sendiri sendiri terhadap yang Maha Sumber. Berbagai sebutan tersebut sudah semestinya tidak perlu sama sekali dipertentangkan toh juga Tuhannya manusia dengan Tuhannya semut dan makhluk lain adalah sama kalau kita menganggap beliau yang Maha Esa atau Tunggal. Bahkan ada seorang teman yang tidak mau menyebut dengan salah satu sebutan apapun yang penting katanya niatnya kepada Yang Maha segalanya yang merupakan sumber dari semua sumber yang tidak disebabkan oleh sumber lain. Sah sah saja toh juga yang paling penting adalah pemahamannya sampai sebatas mana. Pasti semua memiliki alasan alasan tersendiri untuk menyebut-Nya demikian. Bagi saya sendiri, saya lebih memilih menyebut SIWA namun bukan DEWA SIWA yang sering digambarkan dalam film India atau lukisan lukisan yang sering kita lihat. 

Dari keyakinan saya (pribadi) dan dari literatur literatur yang pernah saya baca, akhirnya saya memilih sebutan SIWA karena dari bacaan OM NA-MA-SI-WA-YA OM dimana Na adalah Prtiwi yang menjadi simbul semua benda padat, Ma adalah Apah yang menjadi simbul dari semua benda cair, Si adalah simbul dari semua api, panas dan sinar, Wa adalah simbul dari semua angin, udara, gas dan nafas serta Ya adalah simbul dari semua ruang atau langit. Jadi sumber dari semua zat di alam semesta adalah SIWA.

Aksara suci ditengah tengah dari Panca Aksara dan Panca Brahma adalah Akasara Suci SIWA yaitu Yang dan Ing kalau di China disebut sebagai Yang-Ying, jangan lupa ajaran Hindu dibawa ke China disebut TAO  yaitu simbul Hitam-Putih, Atas-Bawah, Laki-Perempuan dst. Jadi penguasa atau sumber semua Rua-Bhineda dua yang berbeda adalah SIWA.

Sang BUTA-KALA disebut dalam berbagai literatur sebagai Putra SIWA. BUTA adalah ruang, KALA adalah waktu, jadi sumber dari ruang dan waktu adalah SIWA. Bukankah definisi semesta adalah ruang-waktu beserta semua isinya? Jadi sumber dari semesta adalah SIWA.

Saya masih memiliki banyak dasar dasar lain untuk menyebut Tuhan yang tunggal sebagai SIWA namun lagi sekali mari kita tidak mempertentangkan sebutan-Nya. Bukankah yang terpenting adalah melaksanakan semua kebenaran yang beliau ajarkan kepada kita agar kita kembali menyadari diri kita sebagai extensi dari SIWA (Tuhan) itu sendiri.

Setiap dari kita pasti pernah mempertanyakan siapa diri kita sesungguhnya. Secara biologis kita menyadari keberadaan kita ada disini karena kedua orang tua kita. Namun pasti ada pertanyaan pertanyaan yang lebih jauh dari itu seperti dulu ketika saya belum menjadi manusia saya siapa? Ketika badan kasar saya bertumbuh, pikiran dan jiwa saya ikut berkembang? Apa kira kira manfaat saya lahir atau potensi apakah yang dianugerahi SIWA (Tuhan) pada saya untuk kebaikan alam semesta?  Demikian seterusnya...

Kita yang abadi adalah Jiwa (Atman). Jiwa kita bersumber dari Maha Jiwa yang kita sebut sebagai Parama Atman yaitu SIWA (Tuhan), Yang Maha Sumber. Semua jiwa bersumber dari Maha Jiwa sehingga kita sendiri adalah extensi dari SIWA itu sendiri. Ini sebabnya ada istilah Manusa ya, Dewa ya, Buta-Kala ya, yang artinya Manusia dia, Tuhan atau Dewa dia, Ruang-Waktu juga dia. Jadi alangkah indahnya hidup jika kita menyadari bahwa kita sebenarnya adalah tunggal karena bersumber dari satu Jiwa yang Maha Agung. Bagaimana indahnya dunia kalau kita bisa melihat segala sesuatu adalah Tuhan. Kita selama ini sudah sering mendengar Tuhan sebagai Maha Sumber, nah itu artinya semua bersumber dari satu sumber namun pada kenyataannya oleh ego kita, kita merasa terpisah dari yang lainnya. 

Oleh ego kita, kita menganggap diri kita lebih tinggi dari yang lain atau sebaliknya merasa lebih rendah dari yang lain. Mari kita simak kelahiran kita secara fisik dan spiritual. Sang janin ketika berada dalam kandungan Ibu terpelihara dan terjaga oleh air ketuban, darah Ibu yang menyalurkan sari sari makanan, selubung halus janin yang disebut sebagai lamas dan ari ari. Sama halnya dengan sang janin mereka punya badan fisik dan jiwa. Mereka senantiasa bekerjasama 'tanpa pamrih. menjaga dan memelihara sang janin. Didalam mereka bersaudara dan saling mengasihi satu sama lain. Bahkan sang janin dengan keempat saudaranya dikatakan memiliki janji saling mengasihi satu sama lain dalam setiap kehidupan. Namun begitu sang janin terlahir dan oleh hiruk pikuk keduniawian yang sering menyesatkan, kita akhirnya melupakan persaudaraan sejati kita. Kita lebih mementingkan untuk memenuhi ke-egoan kita. Nah kita lanjutkan ceritanya, ketika berumur kurang lebih sembilan bulan kecuali ada prematur atau sesar, sang janin siap lahir. 

Sang Ketuban (amniotic fluid) pecah terlahir duluan untuk memberi jalan kepada si janin. Maka itu dia kita sebut sebagai kakak tertua kalau di Jawa disebut sebagai Kakang Kawah. Di Bali disebut sebagai Sang Anggapati. Roh Sang Ketuban ini kemudian berstana diarah Timur mendapat kekuatan dan sinar suci dari SIWA sebagai Dewa Iswara sehingga selain sebagai Sang Anggapati dia juga disebut sebagai Buta Petak. Bagi mereka yang sudah dapat menyaksikan saudara tuanya ini, akan terlihat sama seperti sang diri namun berwarna putih dan bersih laksana putih cemerlangnya langit. Untuk ini juga di Bali dia sering disebut sebagai Sang Tangkeb Langit. Dia sangat mengasihi kita dan karena sudah menjadi Atma, kesadarannya sama dengan Parama Atma (Siwa). Melalui nurani kita, dia selalu membisikan kita untuk berkarma baik dan benar, namun oleh godaan indriya, oleh godaan rajas (ambisi) dan tamas (kesombongan) serta oleh amarah, hawa nafsu, kelobaan, kemabukan dan iri dengki membuat kita bingung dan mengabaikan bisikan-bisikan kedewataannya yang merupakan kebenaran sejati namun sebaliknya memilih untuk mencari pembenaran pembenaran. Sebagai contoh: ada kesempatan berbuat curang seperti korupsi, selingkuh, mencuri dan sebagainya. Melalui nurani (jantung) kita, makanya dia disebut melingga ring pepusuh, kakak kita ini membisikkan,'Jangan dilakukan karena akan menjadi racun bagimu, keluargamu dan yang lain dikemudian hari', namun the wild monkey pikiran liar kita akan membisikkan,'Kapan lagi kamu punya kesempatan ini, hidup cuman sekali'. Manusia yang sudah tercerahkan akan selalu mendengar nasehat saudaranya karena menyadari bisikan saudaranya adalah bisikan Siwa/Tuhan. Bagi yang masih terbelenggu oleh sifat sifat diatas akan mengabaikan bisikan bisikan saudaranya. Konsekuensinya semakin sering anda tidak mendengarkannya, maka dia akan semakin enggan untuk memberitahu anda karena dia tahu anda tidak akan mendengarkannya. Lama lama dia akan semakin tertutup oleh hati dan pikiran yang semakin kotor. Disinilah kemerosotan hidup dimulai. Anda kembali mengikuti sifat sifat binatang sehingga bukannya berevolusi menjadi makhluk kedewataan namun semakin terjerebab menjadi binatang berkaki dua (dwi pasuh). Apabila pada kehidupan ini belum sempat menerima buah karma tersebut, maka pada kelahiran berikutnya terlahir sebagai manusia papa yang penuh dengan keterbatasan dan berbagai kelemahan, bahkan bisa menjadi binatang. Jangan dilupakan sastra ,' Dewa ya maneraka menadi manusa, manusa ya maneraka menadi pasuh dst yang artinya Dewa neraka menjelma menjadi manusia, manusia neraka menjelma menjadi binatang dst. Bukankah tujuan dari kehidupan ini kita harus sadari agar terwujud dan perlahan lahan menjadi jiwa kedewataan yang suci yang penuh wolas asih dan menjadi semakin mulia?   

Berikutnya Sang Darah (blood) juga ikut terlahir. Jiwa Sang Darah lalu berstana diarah Selatan mendapat kekuatan dan sinar suci dari SIWA sebagai Dewa Brahma. Ia disebut sebagai Sang Prajapati. Karena warnanya laksana api yang merah menyala  sehingga selain sebagai Sang Prajapati dia juga disebut sebagai Buta Abang. Di dalam tubuh dia berstana di hati, melingga ta ya ring ati. Dia yang selalu memberi kita semangat dan kekuatan untuk selalu menjaga kesucian diri ditengah begitu banyaknya godaan godaan hidup yang bisa menyesatkan. Apabila anda sedang patah semangat dalam melaksanakan kebenaran, sebaiknya melalui hati dan pikiran yang suci anda meminta petunjuknya. 

Sang Lamas (vernix) yaitu pembungkus halus janin yang berwarna kuning seperti keju. Dia ikut terlahir sebagai pembungkus bayi. Jiwa Sang Lamas lalu berstana diarah Barat mendapat kekuatan dan sinar suci SIWA sebagai Dewa Maha Dewa. Ia disebut sebagai Sang Banaspati. Karena warnanya kuning  sehingga selain sebagai Sang Banaspati dia juga disebut sebagai Buta Kuning. Di dalam tubuh dia berstana di ginjal, melingga ta ya ring ungsilan. Dia yang selalu melindungi tubuh baik jasmani dan rohani kita dari energi energi luar yang negatif. Disebutkan dia merupakan kekuatan dari segala mantra. Sehingga bila meniatkan sesuatu yang baik, dengan pikiran dan rasa rahayu atas seijin SIWA  dia akan mewujudkannya.  

Sang Ari Ari (placenta) yang terakhir lahir setelah sang bayi maka di Jawa disebut sebagai Adi Ari Ari. Jiwa Sang Ari Ari lalu berstana diarah Utara mendapat kekuatan dan sinar suci SIWA sebagai Dewa Wisnu. Ia disebut sebagai Sang Banaspati Raja. Karena warnanya kehitam hitaman sehingga selain sebagai Sang Banaspati Raja dia juga disebut sebagai Buta Ireng. Di dalam tubuh dia berstana di paru paru, melingga ta ya ring ampera. Dia memelihara tubuh laksana air yang menyejukkan dan menenangkan. Ia adalah pusat kebahagiaan lahir dan batin, Bersamanya dengan pengendalian diri yang baik, atas niat yang baik dan atas seijin SIWA  sebagai Dewa Wisnu, semua kekayaan, keberlimpahan dan kesejahteraan terwujud. Perlu diingat juga Sakti atau Kekuatan SIWA sebagai Dewa Wisnu adalah Dewi Sri Laksmi simbul segala amerta dan kekayaan. Beliau juga disebut sebagai Dewi Sri Sedana sumber dari semua kekayaan dan keberlimpahan, dari India kepercayaan ini mulai dikenalkan dan menyebar di China pada masa dinasti Tang (618-907) setelah Sansekerta ditranslate dalam ajaran TAO disebut sebagai Dewi Kwan Im. Kecantikan-Nya melambangkan kekayaan yang diperoleh dengan cara yang Indah dan damai.

Apabila ingin memperoleh hidup yang sehat jasmani rohani, bahagia lahir batin, panjang umur (dirgayusa), berlimpah sejahtera setiap saat, maka lakukan penyucian diri yang semua bersumber dipikiran. Ajak saudara saudara kita yang sudah menjadi Dewa tersebut manunggal. Hindari pikiran, perkataan dan perbuatan tercela seperti perselingkuhan, kendalikan hawa nafsu, amarah, kebencian, ketamakan, kemabukan, ambisi yang mengorbankan orang lain, iri hati dan dengki serta kebingungan kebingungan yang lain. 

Salah satu karma paling buruk adalah ketika manusia memikirkan hubungan sex dengan bukan pasangannya. Memikirkanpun sudah merupakan perbuatan dosa. Dalam Weda juga sudah mengisyaratkan bagi mereka yang berkehendak dan melakukan hubungan sex bukan dengan pasangan suci pernikahan (wiwaha), maka akan berumur pendek atau kalau berumur panjang akan sakit sakitan dan kehancuran hidup akan ditemui dan apabila terlahir kembali akan lahir menjadi manusia (makhluk) papa yang penuh penderitaan. Bahkan apabila anda sudah bersuami istripun hubungan sexual jangan dilakukan hanya untuk memenuhi nafsu. Jangan sering sering (uga payoga), lakukan hanya untuk menjaga keharmonisan keluarga. 

Kita harus ingat satu karma yang baik senialai dengan 100X yadnya besar. Jadi tidak ada manfaatnya beryadnya kalau anda masih memiliki niat niat kotor dalam kehidupan. Niat dan pikiran adalah karma. Jaga kesuciannya setiap saat. Pikiran adalah tempat suci SIWA dan Para Dewa maka sudah sepantasnya kita selalu menjaga kesuciannya. Jangan pula dilupakan sastra:
Dari niat dan pikiran timbul perkataan, dari perkataan menimbulkan perbuatan, dari perbuatan akan menjadi kebiasaan, dari kebiasaan menjadi karakter, dari karaktermulah engkau menciptakan nasib dan takdirmu. Jadi sesungguhnya manusia dianugerahi 100% kebebasan untuk membuat nasib dan takdirnya dikemudian hari. 

SAYA ADALAH MANUNGGALNYA SANG PANCA MAYA KOSA DAN SANG CATUR SANAK

Doa kita setiap saat hendaknya kita tujukan pada semesta seluruh alam baik alam nyata, alam gaib maupun maha gaib. Saya berfikir satu satunya cara mendoakan semesta adalah dengan berterimakasih pada semesta. Sesungguhnya semesta menganugerahi kita semua keajaiban ini. Coba kita renungkan mengapa ada Ibu Bumi yang mengijinkan kita untuk berpijak dan memperoleh semua sumber makanan dan kehidupan, ada air yang membuat kita bisa minum, mandi dan hidup, ada api dan sinar yang membuat kita bisa melihat dan menikmati kehidupan ini, ada udara yang membuat kita bisa bernafas dan merasa segar, ada ruang atau langit yang membuat kita bisa bergerak dan seterusnya. Semua ini sesungguhnya bukanlah ada begitu saja. Semua adalah anugerah dari Yang Maha Sumber. Semua adalah keajaiban namun sebagian besar kita menganggapnya biasa saja. Sangat jarang mungkin manusia berterimakasih pada nafasnya yang merupakan hal paling esensi dalam kehidupannya. Bahkan tidak jarang manusia mengabaikan yang esensi demi mengejar hal hal yang sesungguhnya sangat tidak esensial.

Bukan hanya semesta, diri kitapun adalah keajaiban. Ketika saya makan dan minum, saya melakukannya dengan sadar, namun ketika ada didalam lambung saya, dicerna, sari sarinya diedarkan kebagian badan yang lain, sebagian dijadikan energi, sebagian dijadikan otot dsb semua itu bukan pekerjaan alam sadar saya lagi, bukankah ini keajaiban? Tugas saya mungkin secara sadar sebatas mendoakan agar makanan tersebut menjadikan diri kita sehat, panjang umur dan bahagia. Jadi kebanyakan hal esensial dalam hidup kita adalah pekerjaan alam bawah sadar kita yang tidak teramati oleh kita, namun tugas kita adalah secara sadar terus menerus memberi makanan atau input yang 'Rahayu' dalam bentuk niat dan pikiran yang baik bagi alam bawah sadar kita. 

Dari lima lapis badan kita yang disebut sebagai Panca Maya Kosa, hanya satu yang terlihat oleh kita yaitu Annamaya Kosa yaitu badan wadah kita yang juga sering disebut Stula Sarira. Berikut adalah lima lapis badan kita:

1. Annamaya Kosa, badan kasar kita yang terbuat dari Panca Maha Buta yaitu Prtiwi seperti tulang, daging dan semua zat padat lainnya, Apah yaitu semua cairan dalam tubuh termasuk darah, lendir dan zat cair lainnya, Teja yaitu suhu tubuh kita, Bayu yaitu nafas dan angin dalam tubuh kita dan Akasa yaitu rongga rongga dalam tubuh kita. 

2. Pranamaya Kosa, badan energi kita yang terdiri dari Dasa Bayu, Sapta Cakra dan Kundalini.
a. Dasa Bayu yaitu titik titik udara yang ada dalam tubuh kita yang memberi kita kekuatan hidup yang terdiri dari Prana di Paru Paru, Samana pada pencernaan, Apana pada Pantat, Udana pada Kerongkongan, Naga pada Usus atau Perut, Kumara pada Tangan dan Jari Jari, Krakara pada Hidung saat bersin, Dewadatta pada Mulut saat menguap, Dananjaya yang memberi makan pada tubuh dan Byana pada seluruh tubuh. 
b. Sapta Cakra merupakan pusat pusat energi dalam tubuh kita yang secara garis besar dikenal ada di tujuh titik badan yang disebut Sapta Cakra. Cakra pertama yaitu Muladara terletak dua jari diatas dubur dan berpangkal pada tulang ekor. Yang kedua adalah Swadisthana terletak tepat pada kemaluan atau pepurus, selanjutnya yang ketiga adalah Manipura terletak di pusar, yang keempat Annahata terletak dijantung, lalu yang kelima adalah Wisudha di kerongkongan, yang keenam adalah Ajna ada diantara dua alis dan yang terakhir adalah Sahasra ada diubun ubun yang disebut Siwadwara yang merupakan semayam Siwa/Tuhan Yang Maha Agung sehingga cakra ini juga sering disebut Sahasra Padma Dala. 
c. Kundalini adalah energi maha dahsyat yang sesungguhnya ada dalam setiap tubuh manusia. Energi ini diibaratkan sebagai naga yang sedang tidur. Bahkan bagi sebagian besar manusia energi ini tidak pernah bisa dibangkitkan dalam beberapa kali kelahiran. Pembangkitan energi ini bukanlah dilakukan dengan ritual atau upacara tertentu namun dengan ketekunan menjaga kesucian pikiran, perkataan dan perbuatan. Manusia yang mampu membangkitkan kundalini adalah mereka yang sudah sangat memahami dan melaksanakan kedisiplinan untuk setiap saat menjauhkan diri dari amarah, ketamakan, hawa nafsu, kamabukan, kebingungan, iri dengki. Hanya kesucian pikiran dan rasa yang dengan teguh dijaga maka akan dapat membangkitkan energi ini. Semua pikiran, ucapan dan tindakan didasarkan pada Sat (setia, jujur, benar)-Chit (sadar)-Ananda (fokus pada kebahagiaan semesta) dan Satyam-Siwam-Sundaram yaitu niat yang selalu ingin mewujudkan Kebenaran-Kesucian dan Keindahan. Tiada satu upakara/upacarapun yang dapat menyucikan seseorang. Upakara hanyalah sebuah simbul agar setelahnya manusia yang melakukannya dapat berfikir, berkata dan berprilaku suci. Apabila Kundalini dapat bangkit maka dia akan berjalan dari Cakra Muladara naik ke cakra cakra berikutnya, membersihkan semua cakra cakra yang dilaluinya sampai akhirnya lepas di Cakra Sahasra. Kelepasan inilah yang membuat manusia menjadikan dirinya manunggal dengan Siwa dan seluruh semesta dan akhirnya memiliki kesadaran sama dengan Siwa.  
3. Mannomaya Kosa, merupakan badan ketiga kita yang terdiri dari:
a. Citta/Budhir merupakan badan pikiran yang sudah sadar, selalu menjaga kesuciannya sehingga orang yang sudah seperti ini sering kita sebut sebagai orang yang berbudhi.
b. Manas merupakan badan pikiran yang masih pamrih, terbelenggu oleh untung rugi dan masih ada niat ketidaktulusan.
c. Ahamkara yaitu pikiran terendah yang selalu dipenuhi oleh pikiran pikiran keakuan yang ego, tidak merasa manunggal dengan yang lain. Pikiran seperti inilah yang membuat manusia sering ingin mendapat kenikmatan hidup dengan mengorbankan yang lain, membutakan mata hati mereka namun suatu saat semua harus diterima kembali.
4. Wijnanamaya Kosa, badan pengetahuan suci yang didapat sebagai anugerah yang Maha Agung. Pengetahuan ini bukanlah pengetahuan yang didapat dibangku sekolah atau kuliah yang bahkan secara tidak langsung banyak mengajarkan ketidakbenaran. Pengetahuan ini adalah hasil dari pikiran, perkataan dan perbuatan yang terus menerus dan tanpa henti dijaga kesuciannnya. Dalam sastra disebut 'Wijnana tumurun saking Siwa Batara Guru (Guru Utama Semesta seluruh alam), tumurun saking Sanghyang Aji Saraswati, tumurun saking Sanghyang Ganapati. Badan ini adalah yang paling dekat dengan Atma (Jiwa) sehingga walau badan yang terluar berganti, badan ini akan selalu melekat pada sang jiwa. Maka dari itu salah satu tugas utama hidup adalah belajar kebenaran dan kesucian tiada henti agar sang Atama tidak bingung. Kebingungan Atma karena tidak terpelajarkanlah yang oleh kita disebut sebagai Sakit Jiwa.
5. Anandamaya Kosa, dia adalah roh atau jiwa kita yang terdalam. Diri kita yang sesungguhnya yang abadi yang merupakan extensi percikan terkecil Sang Maha Jiwa atau Siwa itu sendiri. Jiwa kita sesungguhnya selalu bahagia. Bahagia tanpa syarat karena dia adalah Siwa itu sendiri. Belenggu ikatan empat badan luarlah yang terkadang seolah olah membuat dia tidak bahagia. Dengan mengendalikan indria kita, menjaga kesucian pikiran setiap saat maka suatu saat kita akan dapat kembali menjadi bahagia sesungguhnya yang disebut dalam Siwa Wedanta sebagai 'Suka tan mewali duka' yaitu kebahagiaan yang tidak kembali membuat duka. Maka pilihlah kebahagiaan yang tidak akan mengembalikan kita kepada duka lara.
 
Bersatunya sang Panca Maya Kosa dengan Sang Catur Sanak menjadikan kita 'Manusa Sejati'. Sementara dijaman ini jangankan Panca Maya Kosa dan Catur Sanak yang bersatu, antara pikiran /rasa, ucapan dan tindakan saja sudah sangat sering tidak sejalan. Pikiran kemana, ucapan kemana, perbuatan kemana? Bayangkan ruwet dan tidak harmonisnya diri seorang manusia. Keadaan inilah yang membuat manusia kehilangan esensinya sebagai makhluk kedewataan. Orang yang tidak satyam (jujur, baik, benar) tidak akan menemukan kebahagiaan sejati. Pemandangan seperti ini sangat sering kita saksikan dijaman ini. Seorang suami yang ucapannya manis didepan istri, sementara pikiran dan perbuatannya tidaklah demikian. Ketidakharmonisan antara pikiran, ucapan dan tindakanlah yang membuat manusia menjadi sakit dan pada akhirnya menghancurkan dirinya sendiri. Apabila semua tindakan bersumber dari pikiran, sesungguhnya setiap saat kita bisa memilih pikiran pikiran yang baik dan benar. Dengan menjaga kesucian pikiran maka ucapan dan tindakan akan mengikuti. Kesucian diri secara menyeluruh inilah yang memungkinkan kita Sang Panca Maya Kosa bisa manuggal dengan Sang Catur Sanak.

Tujuan bersatunya Sang Panca Maya Kosa dan Sang Catur Sanak agar senantiasa dalam hidup dan kehidupan kita disebut sebagai 'Sakti-Sidhi-Suci-Dirgayusa-Rahayu-Sampurna' atau dalam konteks sekarang 'Sehat Jasmani-Rohani, Bahagia Lahir-Bathin, Panjang Umur dan semakin Sempurna. 

Salah satu caranya adalah dengan selalu mengajak Sang Catur Sanak dalam keadaan Suka terutamanya. Karena kebanyakan pada saat sehat dan bahagia lupa, ketika sudah sakit atau Duka baru ingat. Misalnya pada saat makan pertama di pagi hari kita haturkan sedikit apapun yang kita makan hanya sebagai simbul rasa terimakasih kita kepada Yang Maha Sumber, kepada Para Dewa Dewi, Kepada Sanghyang Buta - Kala Semesta Seluruh Alam Beserta Isinya, Kepada Para Leluhur. Ajak saudara saudara kita hanya untuk berterimakasih:
'Awak sariranku kabeh Sang Panca Maya Kosa, suksma setata manunggal ring Sang Catur Sanak ngastiti bakti angaturaken suksma ring linggih Ida Sang Hyang Siwa, Dewa Dewi sami, Sang Hyang Buta - Kala, Leluhur Sakti sami, angaturaken suksma ring Sarwa Prana Prani, Sarwa Tumuwuh, Maurip tan Maurip Sami antuk kerahayuan iraga, Jagat lan sedagingnyane sami, 'Ong-Nang-Mang-Sing-Wang-Yang-Sang-Bang-Tang-Ang-Ing-Ang-Ah Ong' 

Lakukan Maha Gayatri (Hanya Bait Pertama). 


-Om Na-Ma-Si-Wa-Ya Om (Terimakasih kepada Yang Maha Tunggal/Maha Agung/Maha Sumber)
-Om Ibu Prtiwi Ya Namah, Om Sanghyang Ananta Boga, Om Sanghyang Naga Basuki Ya Namah (Ibu Bumi dan penguasa Sapta Patala)
-Om Sanghyang Wisnu Ya Namah  
 




Share This Post: